Keris Pusaka Ageman

Pusaka Ageman, dinamakan keris ageman, yang berarti keris tersebut hanya untuk hiasan atau dipakai didalam acara-acara biasa. Umumnya untuk membuat keris Ageman hanya membutuhkan bahan sebagai berikut.

1. Besi Balitung

2. Besi Purosani

3. Besi Penawang sebagi ganti pamor.

Besi Balitung adalah besi murni yang warnanya hitam kecoklat-coklatan. Besi Purosani adalah besi yang timbulnya sudah bercampur baja. Adapun besi penawang adalah besi lunak berwarna putih pudar, tetapi anti karat.

 

Adapun cara membuatnya ialah sebagai berikut, karena zaman dahulu belum ada alat untuk menimbang, maka dalam hal pembuatan keris tidak ada cara timbang berat untuk bahan yang akan digarap. Cukup hanya dengan cara besi purosani selebar jari manis sepanjang kurang lebih 10cm tebal menurut kemauan. Besi tersebut terdiri satu lembar dan segera dimasukkan dalam api perapian sampai membara dan lantas ditempa sehingga menjadi lunak dengan bentuk memanjang lurus atau berbengkok samar-samar. Setelah selesai besi dimasukkan kedalam air. 

 

Setelah itu besi baliung selebar jari manis dan panjang kurang lebih 10cm tebal menurut kemauan yang terdiri dari dua lapis, besi tersebut dibakar sampai membara dan didalamnya diisi dengan besi purosani yang sudah dingin. Besi balitung yang membara dan sudah terisi tersebut ditempa sehingga merekat bengkok menurut ketentuan dahpurnya, yang bengkokannya keris diharusakan bersifat lengkung ganjil, berarti lengkung tiga-lima-sembilan sampai ada yang berlengkung 29. Sesudah bengkok atau dalam istilah keris dinamakan Luk sudah selesai dibuat, besi yang membara tersebut diangkat tetapi jangan dimasukkan ke dalam air. Ditumpangkan dulang landasan dan besi yang untuk disediakan dibuat bentuk apa yang dinamakan pesi. yang panjangnya diperkirakan paling panjang 7cm , bagian lain-lainnya perwujudan keris yang setengah jadi tersebut segera diisi dengan gambar atau lekuk (dekok:bahas jawa) yang dalam istilah keris (kacurigan) dinamakan ricikan  yang diinginkan menurut ketentuan . Selesai membentuk dan membikin ricikan  besi pengambilan dari bagisan pesi yang diambil dibuat ganja, setelah ganja sudah memebentuk, ditengah harus dilubangi untuk jalan menusuk atau masuknya pesi tersebut diatas. Besi tiga lapis yang sudah dibentuk menyerupai keris itu masih bekum dinamakan selesai, dalam istilah kacurigan baru dinamakan blabaran . Setalah blabaran keris tadi disirep (dimasukkan air), segera besi penawang (bukan pamor) disiapkan terdiri dari dua lapis, sebesar dan selebar 2mm, panjang menurut blabaran keris. besi panangan segera dimasukkan ke dalam api, seraya mempersiapkan blabaran, yang juga dimasukkan ke dalam api tetapi hanya sparuh bara. Dan besi penawang yang mulai meleleh segera ditaruh atau ditumpangkan ke atas tengah-tengah blabaran keris mulai dari ganja sampai pucuknya dibagian sebelah yang kesatu dan terus ditempa (digembleng). Oleh karena sifat besi penawang tersebut lunak gampang mancair, maka setelah diteteskan diblabaran sebelah, pasti segera mencair, membentuk gambar seperti riak air atau daun dan lain-lain. Cairan besi penawang tersbut kalau sudah lengket diblabaran keris kanan dan kiri biasanya dinamakan pamor panawang , berarti pamor yang terbuat dari besi penawang dan bukan terbuat dari pamor besi asli.

 

Ada yang perlu diperhatikan, bahwa  pengetrapan apa yang dinamakan pamor, entah itu amor panwang atau pamor asli, semuanya jangan sampai mengenai pesi.

 

Blabaran keris yang sudah hampir selesai penggarapannya tersebut segera diangkat dan ditumpangkan di atasdulang landesan , setelah dingin digosok pelan-pelan dan jangan terlalu menekan, mulai dari ganja sampai pucuk kembali dari ganja sampai pucuk lagi. Berarti jangan menggosok secara bolak balik. Penggosokan itu dengan menggunakan besi bundar halus. Setelah selesai penggosokan, baru perwujudan tersebut dinamakan keris babaran

 

Babaran keris yang tertulis diatas tadi, karena pembuatannya hanya dengan cara seperti pembuatan alat-alat yang dibuat dari besi, maka keris tersebut dinamakan keris ageman. Dalam istilah umum dimasukkan dalam golongan keris yang tidak berisi, walaupun dibuat oleh seorang empu.

 

**  Pakem Pengetahuan Tentang Keris, Koesni, CV. Aneka Ilmu Semarang, 2003.